Ironi Dibalik Fenomena Mudik dan Balik Lebaran

Masih di minggu awal bulan syawal 1440 hijriah, penulis mengucapkan 
Selamat hari raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. 
_____________________________________________

Bulan ramadhan menjadi momen akbar bagi masyarakat dunia tak terkecuali Indonesia, negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Di Indonesia sendiri banyak hal iconic yang hanya dapat ditemui di momen-momen ramadhan, seperti ngabuburit sambil mencari takjil di pasar kaget pinggir jalan, kumpulan remaja yang melakukan pawai guna membangunkan masyarakat sahur, fenomena arus mudik dan balik, hingga berburu tunjangan hari raya saat lebaran. 

Momen ramadhan dianggap sebagai waktu yang paling tepat mengumpulkan amal-amal perbuatan baik. Hal tersebut dapat ditempuh melalui berbagai hal seperti beribadah secara khusyuk, berbagi dengan sesama, hingga menjaga dan membentengi diri lebih kuat dari hal-hal negatif. Hingga nanti saat hari lebaran tiba, waktunya untuk saling bermaaf-maafan. Namun ada satu fenomena yang hanya terjadi tiap hari raya ramadhan, yakni perjalanan mudik dan balik lebaran.  

Kondisi Jalan tol saat mudik berlangsung
Kondisi jalan tol saat proses mudik berlangsung

Saat mudik dan balik lebaran berlangsung, mayoritas masyarakat nusantara yang merupakan penduduk muslim berbondong-bondong kembali ke kampung halaman. Mudik pun menjadi momen untuk bersilaturahmi dan bertemu dengan sanak keluarga. Namun sadarkah kita, dibalik fenomena sosial ini terdapat beberapa polemik yang terus menjadi permasalah kausal dari masa ke masa seperti yang telah dirangkum di bawah ini; 

1. Pesona ibukota terus menjadi magnet pemikat imigran daerah
        Deretan gedung pencakar langit tak henti-hentinya memberikan harapan menggapai mimpi lebih dekat. Ungkapan inilah yang menggambarkan bagaimana ibukota seakan memberikan kesempatan bagi para warga daerah agar seakan lebih dekat dengan angan yang biasanya hanya menemani di sela tidur siang mereka. Hingga terkadang tanpa harus melengkapi diri dengan peralatan perang mumpuni, para serdadu ini berlari tunggang langgang ke medan perang.

        Frasa-frasa di atas mungkin akan sedikit menggambarkan bagaimana realitas masyarakat daerah yang terus berdatangan tiap tahunnya pasca lebaran guna mengadu nasib ke Ibukota. Jakarta yang sudah penuh sesak dengan masyarakatnya terus dibanjiri manusia yang mencoba menaruhkan peruntungannya bersaing menjadi pribadi yang lebih baik. Jajaran gedung tempat memproduksi perkakas dapur hingga perangkat elektronik menjadi gelanggang tempat para pendatang baru bersaing dengan jagoan-jagoan ibukota lainnya. Para penghuni yang telah terlebih dahulu berurusan dengan lingkungan tersebut.

        Lebih banyaknya jumlah peserta dibanding pemenang dicari, tentu saja membuat ada beberapa pihak yang akhirnya tumbang. Ada yang mengaku kalah dan memilih menarik diri dari persaingan, membesarkan hati dan mengakui jika tanah sendiri lebih bersahabat. Ada pula yang memilih jalan lain yang hitam, gelap, berliku, dan berbahaya seraya mengeraskan hati jika pantang pulang sebelum menang. 

2. Mudik sebagai arena memamerkan eksistensi pembuktian diri

        "Pulang malu, tak pulang rindu" mungkin terdengar seperti lirik lagu dari band lokal yang cukup terkenal di masyakat. Namun, apabila kita telaah lebih jauh lirik ini sangat relevan dengan realitas masyarakat saat mudik kembali ke sanak keluarga. Merujuk pada poin sebelumnya yang kisahkan para masyarakat daerah yang beradu nasib di ibukota dengan hanya bermodalkan niat yang kuat. Tentu saja belum tentu kesemuanya berhasil, bahkan ada yang hanya berakhir dengan hanya berdiri di pinggir arena pertandingan dan memantau para pemain baru, menertawai pengalaman mereka yang hampir sama pernah di alaminya. Bertahan dengan hanya menjadi pemain pendukung yang gunakan segala cara untuk sekadar melanjutkan hidup.

        Rasa rindu terhadap keluarga tentu saja tak tertahankan. Kenangan masa kecil tatkala bercengkrama dengan sanak keluarga atau teman sejawab serta kegiatan-kegiatan kontekstual berupa kearifan lokal daerah yang hanya bisa ditemui di tempat lahir pun makin memupuk kerinduan yang terpendam. Namun berbeda halnya pulang selamat dari medan perang, pulang kampung dengan tangan hampa tanpa peningkatan strata sosial terkadang menjadi batu penghalang tersendiri melangkahkan kaki kembali ke tanah tempat tinggal kedua orang tua.

        Namun acap kali terdengar cerita jenaka tatkala ada beberapa pihak yang kembali ke kampung halaman ketika mudik. Kembali membawa barang-barang mewah dengan meminjam atau menyewa sementara agar terlihat berhasil dalam petualangan karir yang dijalaninya. Sesampainya di kampung halaman pergi menghampiri rumah sanak saudara dengan membawa kendaraan beroda empat, berdandan ciamik dengan dengan baju dan celana yang mirip dengan yang dipakai para artis-artis di tv, hingga deretan logam mulia yang menghiasi jari jemari mereka. Sedikit gambaran yang citrakan orang tersebut berlakon pada momen mudik berlangsung.

        Kata-kata pujian yang sering kali terucap dari mulut-mulut tetangga, terkadang menjadi beban tersendiri menjadi sosok yang jujur pada diri sendiri. Begitu mudahnya mulut berkata manis pun terkadang berlaku sama untuk makna sebaliknya. Selain itu, kepedulian berlebih yang cenderung hanya ingin tau dibandingkan peduli makin mempertegas sikap untuk menjadi sosok yang amat sempurna. Inilah ironi yang terjadi ketika ketakutan diri memuncak tatkala mengakui jika kekalahan bukanlah hal yang berdosa atau hal yang harus dianggap hina dalam hidup.



Tulisan ini bukan hanya sekedar untuk menilai buruk beberapa pihak, namun berharap dapat memberikan pandangan lain terkait ironi yang terjadi pada fenomena mudik dan balik lebaran. Membangun mental percaya dan menyayangi diri sendiri serta mengurangi sikap menilai orang lain secara berlebihan menjadi salah satu cara membangun masyarakat yang sehat. Menciptakan dunia yang tidak hanya menjadi etalase nafsu dan keegosian, melainkan tempat kejujuran dan rasa saling menerima kekurangan bertemu untuk mewujudkan cinta.

Tulisan ini juga didedikasikan untuk menjadi peserta lomba blog Indonesian Muslim Society in America (IMSA) dalam rangka memperingati dan menyemarakkan Ramadan 1440 H. IMSA merupakan lembaga non-profit yang memfokuskan diri di bidang keagamaan, literasi, edukasi, sains, serta charity. Bermarkas di Amerika Utara, IMSA memiliki misi untuk membantu komunitas muslim Indonesia disana agar kapasitas intelektual dan spiritualnya semakin maju. Bersama dengan semangat IMSA, mari kita bangun bersama bangsa Indonesia yang makin bermartabat.



Comments

Mantap, penulis membentangkan dua sisi wajah atas fenomena mudik lebaran.
Thank you for visiting my blog 🙏

Artikel Favorit

My 2nd Story "Jangan Takut Berbagi"

Pengalaman Sehari Kerja sebagai Banquet Service Officer.

My 1st Story "Mau Ngapain sih di Blog?"

Tips Sukses Memulai Bisnis Sukses dari Nol Tanpa Modal